Selasa, 08 Mei 2012

RAJAWALI



Kehadiran seorang putra memang sangat membahagiakan bagi orang tua, apa lagi putra pertama. Tiga tahun berlalu, tapi itu seakan hannya sejenak mereka bisa bergaul dan mengerti satu sama lain, setelah akad, hanya jelang waktu lima hari dimana Lutfi harus meninggalkan belahan jiwanya yang baru ia ikat dalam sebuah akad pernikahan, ia harus melanjutkan pertempuranya yang tertunda, Negara jauh di dunia arab adalah tujuannya. Hari talah berlalu, Lutfi sudah melaksanakan rutinitasnya menggeluti buku-buku tebal, terasa berat di awal-awal waktu, seakan raganya mengajak untuk bersua dengan sang istri, berusaha dengan sekuat tenaga menepis semua itu, HP tak ia nyalakan di minggu pertamanya, entah ada telfon atau sms dia tak tahu, tujuannya hanya untuk mengabdikan diri kepada ilmu Tuhan. Tak banyak ia ketinggalan pelajaran, hari-harinya berjalan semakin normal, konsentrasinya menyatu, hingga akhir setelah tiga tahun nilai "mumtaz" ia dapatkan, gelar Lc ia sandang dan ia bawa untuk pulang.
Kecerahan pagi semakin lengkap dengan hadirnya tangisan seorang bayi kecil yang sudah menyandang nama Ahmad, kopi hangat sudah siap di meja kecil teras rumah, dengan menimang si kecil, Lutfi masih sempat melalar hafalan al qurannya, kebiasaan di pagi hari, sebelum berangkat ia membagikan hasil jerih payahnya di timur tengah kepada para generasi penerusnya, lafal-lafal al Quran selalu menjadi penyegar hatinya, juga anak kecilnya. Waktu berangkat ke medan perang telah tiba kala sang surya semakin menampakkan keceriaannya, wajah putih bersih dengan songkok putih telah melaju dengan jupiternya, hanya senyuman manis dari Salma dan jerit kecil Ahmad yang mengantarkan langkahnya di setiap pagi. Burung pipit menghiasi pucuk cemara depan rumah yang hanya dua biji itu, menyambut kedatangan sang kepala keluarga, dua belahan hati keluar menyusul sambutan pipit setelah jupiternya berhenti. Rumah yang tak luas, keramaian tak begitu, hanya suara adzan yang senantiasa menemani mereka dikala subuh hari, tapi itu tak sedikit pun mengurangi keceriaan diantara mereka, seakan kenikmatan telah begitu banyak mengisi kehidupan mereka.
Kebutuhan hidup semakin mendesak, si kecil pun menginjak usia yang mengharuskan orang tua bekerja lebih keras, kerjaan sampingan mulai ditekuni oleh lulusan timur tengah itu, kegiatan mengajar pun tak lagi penuh, ia meminta jadwal yang tak bertabrakan dengan jadwalnya di rumah. Rumah yang menyendiri, di belakang masjid at Taqwa mereka mengarungi nasib, meski sudah dua tahun ia tinggal di situ, tak banyak warga yang tahu akan asal usul mereka, tidak ada yang ambil pusing, mereka pun cuek dengn semua, ada beberapa yang tahu akan dari mana dan siapa mereka, sekedar silaturrahmi tak pernah ia tinggalkan, mungkin seminggu sekali, atau sesempatnya. Kehidupan tak berubah banyak, monoton, rezeki masih belum mengalir lancar, ketabahan dan kesabaran menghadapi tantangan zaman yang selalu membanjiri hati mereka, si kecil pun seakan tahu akan keadaan orangtuanya, kesabaran telah tertanam di hatinya, tak pernah ia minta sesuatu yang sekiranya tak begitu penting, ia juga lebih sering menahan keinginannya. Berstatus hanya cukup tak mengurangi keharmonisan rumah tangganya, pula tak pernah mengurangi ketaqwaan mereka kepada Allah, sikap selalu rendah diri sudah mendarah daging dalam jasadnya, Salma juga bukan type wanita matre, diam dan nurut adalah cirinya.
Seiring dengan jalannya waktu, perjalanan Ahmad mulai membutuhkan banyak bekal, tak jarang ia sedikit ragu mengatakan kepada bapaknya ketika tagihan sekolah datang, ia tau betul akan keadaan orang tuanya, hingga pada suatu waktu, salah satu aset dalam hidup bapaknya, sepeda Jupiter, berubah menjadi sesosok L2 Super. Kehidupan memang berbalik, tak seperti dulu ketika Lutfi masih menimba ilmu, semua serba tercukupi, mau apa, ingin kemana, asal baik tujuannya, selalu ia dapatkan, tapi tak begitu sekarang, semua serba bekerja keras, tekad Lutfi untuk membina rumah tangga dengan cucuran keringatnya sendiri telah merubah segalanya, beruntung istri yang setia dan sholeha selalu ada disampingnya, yang rela diajak menapaki jalan terjal yang berliku menuju ridlo Ilahi. Kesulitan demi kesulitan terlewati, mayoritas berurusan dengan uang, tapi tak pernah ada yang keberatan dari mereka untuk menjalaninya, selalu kompak untuk mencari jalan keluar dari jerat tuntutan hidup.
"allahu akbar.. allahu akbar…" gema suara itu lah yang selalu menjadi penghibur hati, yang selalu menyejukkan kesumpekan dengan aral-aral yang harus terlewati dalam hidup. Suara yang dulu keluar dan bergema dari seorang Lutfi, yang membebankan tugas mulia itu pada dirinya sendiri, kini suara kecil meliuk-liuk indah tak lagi darinya, melainkan putra pertamanya yang telah menjelma sebagai sosok kader sang ayah, jamaah tak lagi seperti dulu,yang hanya dua saf dibelakang imam, itu pun sudah terhitung yang terbanyak dalam sejarah selama Lutfi disitu waktu itu, kini masjid berpagar hijau dari kayu itu ramai dengan para jamaah, tak dari orang-orang berumur, anak-anak juga sudah merasakan nyamannya dalam masjid, anak muda masih beberapa gelintir, masih banyak yang terperosok dalam perbudakan hawa nafsu mereka. Kecerahan dalam hidup tak hanya terbayang lagi oleh mereka, keluarga yang terdiri dari dua naggota keluarga dan satu kepala ini semakin semerbak namanya dikalangan masyarakat, ilmu Lutfi yang selalu tercermin dalam kehidupan sehari-harinya seakan mempunyai gravitasi menarik orang-orang disekitarnya untuk mengetahui lebih banyak tentangnya, ia pun tak lagi sendirian di gubuk belakan masjid itu, beberapa keluarga sudah menjadi tetangganya. Keluarga yang terjalin karena cinta kedua belah pihak, juga restu dari kedua wali mereka, kini telah berkembang dan akan memetik panen dari kesabaran, kegigihan dan tawakkal mereka dalam menjalani rintangan.
Keramaian yang tumbuh di masjid itu semakin pesat, tak disia-siakannya oleh Lutfi, ia mencoba membuka pengajian beberapa kitab fiqih yang biasa dikaji di pondok-pondok di pulau jawa, usahanya tak hambar begitu saja, ternyata den gan niat yang tulus mengabdi pada ilmu kepada Allah, berbondong-bondong jamaah berdatangan ingin menimba kedalaman ilmu lulusan timur tengah itu. Wajah berseri-seri kini telah bersahabat dengan Salma, memang tak pernah terlihat putus asa atau galau ketika ia masih berjalan di bebatuan dengan suaminya, tapi kecerahan sekarang begitu nampak diwajahnya, begitu asli. Ahmad telah tumbuh dewasa, juara kecamatan, kabupaten sampai kota kabupaten ia sabet di kancah perlombaan tilawah al qur'an, suaranya yang merdu dan tinggi dengan nafas panjang, ia telah menjuarai cabang itu, kurang dari satu bulan ia harus meninggalkan kedua orang tuanya untuk yang pertama kalinya, ia harus melaksanakan amanah yang dibebankan oleh departemen agama, untuk mewakili propinsinya unjuk kebolehan dibidang tilawatil qur'an di tingkat nasional, kesedihan sedikit ketara diwajah Ahmad pada hari menjelang kepergiannya, tapi tak bisa dipungkiri, rasa cemas akan berpisah dengan orang tuanya tertutup oleh cahaya kebahagiaan di wajahnya, tak hanya dia seorang yang merasakan hal itu, hampir seluruh sahabat, tetangga dan tentunya adalah kedua orang yang telah membinanya, mendidiknya dan menanamkan bekal-bekal untuk perjalananya di samudra kehidupan juga merasakan hal yang sama, bahkan lebih dari itu dengan apa yang dirasakan Lutfi.
Waktu terus bergulir, Ahmad tak lagi ada diantara orang-orang yang begitu mencintainya, ia sudah berada di medan pertempuran untuk menunjukkan nikmat Tuhan yang telah ia dapat. Puji syukur selalu terucap membasahi bibir Lutfi, seakan tak percaya dengan kecemerlangan prestasi putranya, tak ada yang menyangka sepak terjangnya melenceng jauh dari ayah dan ibunya, tak ada dari ushulnya yang memiliki bakat sepertinya, tapi ia selalu ingat bahwa Allah maha agung, apa pun yang Dia kehendaki pasti terjadi. Hari pertama, kedua dan ketiga telah Ahmad lewati tanpa orang yang dicintainya, hari keempat ia harus tampil, tak ada lagi yang bisa ia lakukan setelah berlatih semampunya selain bertawakkal kepada Tuhan yang Maha Agung sebagaimana yang ia petik dari ayahnya. Keseriusan, kegigihan dan kepasrahan Lutfi dalam membina rumah tangga, dalam mendidik buah hatiya kini saatnya ia petik sebagian dari hasilnya, Salma juga tak lepas begitu saja dari pencapaian anaknya itu, wanita yang menikah dengan wali adalah adik laki-lakinya itu selalu membubuhkan rasa percaya diri dalam syakhsiyah Ahmad. Lagi, lagi dan lagi, kejuaraan telah tersiar di televisi swasta, wajah yang tak asing lagi muncul di layar 15 inci dengan senyum yang khas, memegang sebuah piala kuning dengan air mata kebahagiaan menetes membasahi pipinya, tak lain itu adalah putranya, sontak Lutfi menunduk hingga bersujud, bersyukur atas karunia yang telah diberikan Allah padanya, nonton bersama dirumah tetangganya itu penuh dengan suasana haru dan bangga terhadap Ahmad. Rasa terima kasih kepada Tuhan dan kedua orangtuanya, juga orang-orang yang telah ikut andil dalam kehidupannya, terucap lembut dari bibir Ahmad saat memberikan sambutan di podium, di tangerang yang disitulah ajang adu gengsi antar propinsi itu digelar.
Buah dari jerih payah dan tawakkal, kini benar-benar mulai bisa mereka petik hasilnya, Ahmad telah berada di pesantren, sering ia harus meninggalkan pelajaran untuk mewakili pesantrennya. Baru satu tahun lebih sedikit, ia sudah bisa membagikan ilmunya kepada orang lain, anak-anak, pula orang yang umurnya berada diatasnya berebut untuk bisa menimba ilmu padanya, tapi selalu ia sadar bahwa itu adalah titipan dan cobaan, selalu ia mengembalikan kesuksesan itu karena kehendak Ilahi,  tak pernah ia menyombongkan dirinya dengan prestasinya, persis seperti bapaknya, ramah dan rendah hati menghiasi jiwanya.
Turnamen demi turnamen telah ia jajaki, dari yang local sampai go international, Turki adalah tempatnya, bersaing dengan kader yang datang dari berbagai penjuru dunia, bukan lagi hanya kader negaranya, tapi dunia. Memang tak mudah baginya untuk menunjukkan kemampuannya, cobaan demi cobaan ia lewati, dari hari pertama ia menginjakkan kaki di negeri orang itu langsung diserang ppenyakit diare, mungkin hawanya yang terlalu dingin waktu itu, sehingga ia harus berhenti sementara berlatih. Hanya empat orang yang mendampinginya, salah satunya adalah ayahnya sendiri, Ahmad tak begitu menguasai bahasa daerah situ, tapi ayahnya tak tinggal diam, pengalamannya di timur tengah masih terus ia tanamkan pula di benak putranya, ya meskipun timur tengah yang dulu ia singgahi bukanlah tempat yang sekarang ia berada, tapi tak jauh beda peradaban-peradabannya, bahasanya pun mungkin yang beda hanya bahasa pasaran atau amiah.
Satu minggu delegasi garuda itu disana, giliran Ahmad pun untuk ke podium kian dekat, tinggal hanya menghitung jam, malam itu pula ia harus memaksimalkan kemampuannya. Ayah dan kedua gurunya selalu ada dibelakangnya memotivasi Ahmad, demi menghilangkan rasa takut dan grogi di dadanya. Hari itu tiba, jam yang ditentukan dewan juri pun sampai, aturan permainan telah dibacakan, Ahmad telah siap dengan jubah putih dan sebuah surban putih pula terikat rapi dikepalanya, ya itulah pakaian adat arab, meski masih satu kali Ahmad memakai pakaian itu, tapi taka da masalah. Suara seperti biasanya ketika ia unjuk gigi di tingkat nasional, hanya sedikit berbeda dengan cengkok lagunya, sedikit ia permak sepertinya, tapi tak ada yang hawatir akan Ahmad, yang lagi di tanah air masih terjaga meski jam menunjukkan pukul 1 dini hari, hanya satu televisi yang menayangkan lomba akbar itu, tapi itu cukaup untuk memantau perkembangan buah hati bagi sang ibu, duduk diurutan paling depan, mata pun tak sering berkedip, bibir masih dengan ucapan-ucapan sholawat agar putranya maksimal, meski tak dapat juara, tapi tampil dihadapan ribuan ulama dunia adalah sudah sebuah anugrah yang tak terkira.
Usai sudah, perlombaan telah selesai, semua cabang berlalu, untuk kejuaraan akan diumumkan beberapa hari lagi, tak lagi rombongan garuda menunggu, langsung mereka pulang, karena cuaca dan iklim yang tak kuasa untuk pertahanan tubuh has asia, memaksa mereka harus memutuskan pulang. Hujan tak hanya air biasa, tiga hari sekali selalu ada es atau salju yang turun membasahi tanah turki, menambah tubuh menggigil tak karuan, panasnya suhu tubuh kadang tak mampu mengimbangi dinginnya angin diluar sana. Hari kedua setelah lomba usai, pesawat menuju Indonesia telah terbang,  berharap sampai tanah air dengan selamat dan kabar gembira untuk ibu tercinta.
Rabu pagi jadwal sampainya Ahmad dan rombongan, keluarga dirumah sudah siap dengan sambutan yang ,eriah, menyambut sang panglima, berbagai pondok yang pernah ia singgahi juga ukut andil dalam mengutus beberapa santri untuk membantu persiapan di rumah Ahmad. Pukul 11 siang selesai persiapan, tinggal menunggu datangnya ayah dan anak yang keduanya membanggakan orang sekitarnya, informasi akan sampainya mereka ke tanah air telah tersiar luas di seantero kotanya, juga kota dulu dimana ia menuntut ilmu. Kebahagiaan telah terpancar dalam setiap paras orang-orang yang telah bersiap akan menyambutnya, kabar akan sampai tinggal beberapa jam, dan mungkin pasti akan sampai. Pukul lima sore, sesuatu yang sangat tak diinginkan oleh keluarga Ahmad, pula untuk orang-orang yang telah merasakan kesejukan hatinya, mobil yang dikendarai Ahmad kecelakaan, begitu kabar dari officialnya, ayahnya tiadak apa-apa, maksudnya masih selamat, tapi Ahmad kini tebujur tak betenaga penuh dengan darah, entah akan tertolong nyawanya atau akan pergi meninggalkan orang-orang di sekitarnya.
Lebih dari 3 jam Ahmad tak sadarkan diri, masih di ruang ICU, tak semua orang bisa melihat keadaan Ahmad, silih berganti masuk ingin melihat keadaannya, dan sama saja, masih ta ada tanda dia akan kembali di tengah-tengah meeka. Suasana yang begitu mengacaukan semuanya, dana yang tak kecil untuk penyambutan tak ada artinya kala kehendak Tuhan lain, hanya pasrah dan tawakkal yang bisa dilakukan, ibu dan ayahnya masih terdiam tak bisa apa-apa kecuali memohon kepada yang Maha Kuasa. Perban putih di kepala Lutfi sudah tak jadi pusat konsentrasinya, lebih terforsir kepada putra emasnya, tapi benar-benar jawaban Tuhan pasti, cobaan adalah jawaban dari semua ketegangan mereka menunggu kelanjutan keadaan Ahmad. Seorang dikter keluar dari ruang dimana ahmad berbaring lemah, dan kalimat tiu benar-benar tak bisa ditolak, oleh siapapun, dan semua juga sudah jelas tahu dan menyadari "inna lillahi wa inna ilaihi riji'un" begitu kalimat yang keluar dari bibir dokter Huda.
Tiga hari setelah hari usai lomba, dimana kejuaraan lomba tilawatul qur'an diumumkan, TV swasta masih tetap menyala, menunggu siapa yang akan keluar jadi dambaan bangsa dan umatnya masing-masing. Kediaman Lutfi masih benuh dengan kabungan kesedihan, istrinya masih trauma, tak mau melihat acara itu lagi, hanya Lutfi mencoba ingin tahu minimal siapa yang ada dirutan tiga pertama. Nama Jibril Ahmad Yasir dari Pakistan menempati urutan pertama, menunggu urutan berikutnya agak lama, beberapa menit masih belum muncul, sepertinya ada yang beda dalam raut muka sang pembaca, "inna lillahi wa inna ilaihi roji'un, allahummaghfir lahu warhamhu wa 'afihi wa'fu anhu, tuwuffia yaumil amsi, Ahmad Lutfi Humaidy al jawy, wa huwal faiz roqm tsani fi hadzihil musabaqah". Begitu sedikit mengobati duka atas kepergian sang empu nama itu, kebanggaan akan pencapaiannya telah membuat orang-orang semasanya ternganga kagum, tapi sayang kini tinggal kenangan, semoga dia diterima disisi Allah dan diampuni segala dosanya.

Sabtu, 25 Februari 2012

Tentang Jodoh

Dulu orang bilang jika ada sepasang merpati hinggap diatas pohon natal bersama dengan turunnya salju maka mereka berjodoh. buktinya hubunganku dengan Steven baik-baik saja jadi aku tidak mempercayainya. “Hai, dar udah lama nunggu?” suara hangatnya terdengar dari dalam mobil. “Ugh… aku udah hampir mati, bentar lagi aku khan mau lomba piano. Kamu malah telat jemputnya sih Darling!”jawabku jengkel. “Sori deh, ayo masuk dulu!” jawab Steven dengan lembut. Sorenya “Uwaaaahhh senangnya, aku juara 1 dalam lomba piano tadi, kamu mau makan apa honey, aku traktir deh.” Kataku senang. “Ayo… aku aja yang traktir… darling mau makan di resto yang mana?” sambut Steven. “Ok deh… resto yang biasa saja, ga usah mahal-mahal hon” kataku sambil mengangguk senang. Mesin mobil berderu kencang… seolah terbawa irama riang mereka berdua. “hon, ati-ati! Nanti bahaya…”kataku mengingatkan “ah, tenang aja… Aku khan sudah ahli”kata steven. Ciiiiiitttt! Brrrruaaaakkk! Ternyata kekhawatiranku benar terjadi, mobil Steven menabrak truk gandeng yang sedang mogok. Steven berusaha melindungiku dengan tubuhnya, pandanganku kabur kemudian gelap. Selanjutnya aku tak ingat apa-apa lagi yang kuingat adalah Steven berusaha untuk melindungiku. Saat aku sadar, aku sudah ada disebuah rumah sakit dan gigauanku untuk memangil nama Steven terus menerus dan semakin lama semakin keras karena aku tak ingin ditinggalkannya. Ketika aku melihat sekelilingku aku menemukan vina disampingku sambil melihatku dengan mata sembab. “Vin, Steven mana? Dia gak kenapa-kenapa khan?”tanyaku dengan bibir bergetar. “…” Vina terdiam cukup lama. Kemudian aku bangun dari tempat tidurku dan menatap mata Vina yang berkaca-kaca. “Vin, jawab aku … mana Steven Apa yang terjadi?”tanyaku lagi dengan mata yang sembab juga. “Tenang ve, tenang… kamu tenang dulu, Steven masih ada diruang ICU. Keadaannya masih kritis, kamu tenang ya”jawab Vina sambil memelukku. Aku berdiri sambil terseok-seok menuju ruang ICU dan berkata dalam hati ya Tuhan slamatkanlah ia, ku mohon ya Tuhan. Lampu operasi masih menyala, air mataku mulai mengalir deras dan mengatakan dalam hati Tuhan selamatkanlah orang yang paling kucintai. vina memegang tanganku dengan erat dan mengingatkanku untuk tetap tabah sedangkan pandanganku tertuju pada lampu itu. 2 jam kemudian “Bagaimana dok keadaannya?”kataku dengan bibir bergetar. “Maaf… dia tak tertolong”jawab dokter sambil menggelengkan kepala. Badanku lemas dan tak dapat berkata-kata, aku sudah tak dapat tertawa, pandanganku kosong. Dengan langkah lunglai aku menghampiri jenasah Steven kupeluk tubuhnya yang kaku sambil berteriak memanggil namanya. “Aku tak percaya ini, aku tak percaya semua ini! Bangun honey… bangun… jangan tinggalin aku… plis! Aku sayang ma kamu… plis jangan tinggalin aku!!!”rintihku sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya, air mataku mengalir deras. Jam berdetak, suara hening, pikiranku melayang kembali indahnya bersama dengannya, kepalaku tertunduk lesu. Masih terdengar suara isak tangis ibu dan ayah Steven . Setahun setelah kejadian itu akupun memutuskan untuk memulai lembaran baru, biarkanlah Steven menjadi kenangan abadi dihatiku, Aku masih tetap mencintainya tapi aku harus melupakannya. Tak mungkin aku hidup dimasa lalu, Aku sadar Steven tak mungkin kembali dan aku tak mau hidup dibayangi dengan kenangan steve… aku harus bisa untuk melangkah maju walaupun itu menyakitkan. setahun kemudian “Ve, kelihatannya anak baru itu keren deh”kata vina sahabatku. “Namanya Devon”lanjutnya lagi… aku tak menghiraukannya. Setiap ada cowok kata-katanya selalu saja begitu karena ia tahu aku masih memikirkan Steven, tapi mau tak mau akhirnya aku menoleh juga. “Yah… lumayanlah”jawabku menyakinkan vina. “nah gitu donk itu baru temen gue”seru vina. Tiba-tiba ia mendekati jendela dan berseru pada Devon. “Wei… Devon ada yang mau kenalan nih!” “…” Devon hanya menoleh dan mengangguk. Aku bingung mau berkata apa tapi akhirnya aku tersenyum dan ia pun membalas senyumanku. Dua bulan telah berlalu hubunganku dengan Devon hanya sebatas teman. “Eh, bentar lagi natal lho!”kata Devon “Emang khan… salju udah sering banget turun.”jawabku. “Wei… kata orang dulu kalau ada sepasang merpati hinggap dipohon natal saat turun salju maka mereka jodoh lho.”cerita vina. “Udah tau”jawabku dan devon hampir bebarengan. Aku tersentak dan kemudian kami bertiga tertawa, kami sedang berjalan-jalan dikota yang sedang ramai sambil melihat pohon natal besar yang ada ditengah kota. Esok malam… tepat nya malam natal, Devon meneleponku untuk melihat pohon natal yang ada dikota. Hatiku senang sekali, aku tak pernah segembira ini setelah peninggalan Steven. Aku tak tahu bagaimana perasaanku pada Devon tapi kuputuskan untuk mempercayai legenda merpati itu. “Ugh… dingin banget disini!”kataku sambil duduk didepan pohon natal yang berkilauan. Devon mendekapku untuk memberikan kehangatan dan aku hanya bisa ternganga. “Udah enakan?”kata devon sambil tersenyum. “…” “Eh lihat diatas sana! Ada merpati putih” kata devon bersemangat. “Iya…”kataku mengiyakan. Tak lama salju mulai turun sedikit demi sedikit. Hatiku mulai bertanya-tanya apakah ia adalah jodohku? Orang yang sama sekali berlainan watak dengan Steve? Orang yang kucintakah?

UNKNOWN

Seluruh rasa antusias itu seakan luruh. Semangatku untuk mendengar cerita Laras, hilang begitu saja. Kebahagiaan yang tadi sempat mengisi relung hatiku, tercabut secara paksa. Di sebuah kamar kost-an, aku duduk di atas tempat tidur. Tangan kananku memegang sebatang cokelat. Di tangan kiriku, aku memainkan sebuah permainan, di handphone kesayanganku. “Tari, perasaan dari tadi pagi lo makan cokelat terus. Apa enggak takut gemuk?” tanya Wery, sambil berbaring di tempat tidur yang terletak di samping kanan tempat tidurku. “Iya, gue heran deh sama Lestari. Padahal kalau makan cokelat enggak tanggung-tanggung. Sekali makan bisa habis dua batang. Tapi kenapa badan lo enggak gemuk sih?” Hanny yang dari tadi sibuk ber-SMS-an dengan Deni, pacarnya, ikut melibatkan diri dalam obrolan kami. “Jangan-jangan lo muntahin lagi, ya?” timpa Wery, sebelum sempat aku menjawab pertanyaan dari mereka. “Wah, jangan-jangan iya, nih. Lo bulemia ya?” “Bulemia? Yang benar tuh, bulimia. Bukan bulemia. Makanya kalau punya kamus kedokteran itu dibuka-buka. Jangan disimpan aja,” ledek Wery, sambil tertawa terbahak-bahak. Kami pun kemudian tertawa. Begitulah suasana di kost-an bila malam tiba. Selalu ramai dengan canda tawa. Kata-kata yang Hanny dan Wery lontarkan, terkadang memang dalam. Tapi memang begitulah mereka. Ceplas-ceplos. Untuk menanggapi mereka yang seperti itu, aku harus menganggap bahwa kata-kata yang mereka lontarkan itu tidak serius. Mereka hanya bercanda. Kalau aku mengganggap serius kata-kata mereka. Dijamin, aku enggak akan betah tinggal di kost-an. “Eh, tapi benar enggak sih, kalau lo bulimia?” Henny masih penasaran. “Ya, enggak lah. Ngapain juga gue harus muntahin makanan yang sudah gue makan. Kalau gue ngelakuin itu, bisa-bisa, dinding perut, usus, ginjal, gigi, semuanya rusak. Dan yang lebih parah, gue bisa meninggal karena kekurangan gizi. Mending gue meninggal karena dicium Fikri, dari pada gue meninggal karena kekurangan gizi,” aku yang sejak tadi bergeming, akhirnya menanggapi kata-kata mereka. “Cieee... yang tadi pagi baru jadian. Omongannya enggak nahan.” Tok... tok... tok.... Tiba-tiba pintu rumah di ketuk dari luar. Wery, yang bertugas piket hari ini, bangkit untuk membukakan pintu. “Tari, gue mau curhat!” Laras, saudara kembarku, sudah berdiri di depan pintu kamar, padahal baru lima belas detik Wery membuka pintu. Laras kemudian langsung berlari ke arahku. “Lo ke sini sama siapa? Sudah malam begini,” tanyaku, heran. “Sendiri. Gue sengaja ke sini, mau curhat sama elo. Lagian, besok gue enggak ada jadwal kuliah. Jadi gue bisa nginep di sini.” “Eh... enggak bisa, enggak bisa. Bertiga aja sudah sempit. Apalagi ditambah satu gajah.” Hanny protes. “Teman lo keterlaluan banget, sih. Masa gue dibilang gajah. Lagian, kamar ini kan masih luas banget!” Laras marah. “Hanny memang begitu. Udah, enggak usah di masukin ke hati. Cuekin aja. Kita pindah ke kamar sebelah aja, yuk.” Aku dan Laras kemudian bergeras meninggalkan kamar yang ditempati Hanny dan Wary. Kami menuju kamar yang lain, yang terletak tidak jauh dari kamar mereka. Di rumah yang kami kontrak ini, hanya mempunyai dua kamar. Satu kamar untuk tidur. Satu kamar lagi untuk lemari pakaian dan rak buku. Kami sengaja mengaturnya seperti itu. Karena yang tinggal di rumah ini bukan hanya dua orang. Melainkan tiga orang. Selain itu, agar kebersamaan dan kekeluargaan di antara kami lebih terasa. Sesampainya di kamar, laras langsung merebahkan diri ke karpet, yang berada tepat di tengah-tengah deretan lemari. Aku yang memang sudah lelah, ikut berbaring di sampingnya. “Tari, lo tahu enggak. Tadi pagi gue ketemu cowok, cakep banget. Rambutnya ikal, matanya cokelat, hidungnya mancung, senyumnya manis, terus di pipi kanannya ada tahi lalat. Pokoknya sempurna banget, deh. Gue suka sama dia.” “Ketemu di mana? Namanya siapa?” tanyaku, antusias. Perasaan lelah itu hilang seketika, tergantikan olah semangat yang baru. Karena baru kali ini Laras menceritakan tentang perasaannya pada seorang pria. Baru kali ini dia jatuh cinta. Padahal usianya sudah hampir sembilan belas tahun. “Gue ketemu dia waktu di toko buku. Namanya Fikri.” “Siapa?!” tanyaku, tak percaya. “Fikri. Fikri Adi Dinata. Kalau enggak salah, dia juga kuliah di kampus lo, di jurusan Kesehatan Masyarakat. Lo kenal?! Ih... salamin ya.” Seluruh rasa antusias itu seakan luruh. Semangatku untuk mendengar cerita Laras, hilang begitu saja. Kebahagiaan yang tadi sempat mengisi relung hatiku, tercabut secara paksa. Meskipun begitu, aku tidak ingin mengecewakan Laras. Aku tetap mendengarkan cerita tentang pertemuannya dengan Fikri. Tak tega rasanya membuatnya kecewa. Ia begitu bersemangat, begitu bahagia. Aku benar-benar bingung sekarang. Aku harus bagaimana?! Laras ternyata mencintai Fikri, pacarku sendiri. Ini bukan salahnya, karena dia tidak pernah mengetahui bahwa aku dan Fikri, sebenarnya pacaran. Ini adalah kesalahanku sepenuhnya, karena aku tidak pernah memberi tahu Laras. Tapi aku tidak tega menghancurkan perasaannya. Cinta pertamanya! *** “Fikri, hari ini kamu masih ada jam kuliah enggak?” “Enggak ada. Memang ada apa?” “Aku ingin ke pantai. Kamu mau menemaniku?” “Untuk kamu, apa sih yang enggak?” “Ya sudah. Berangkat, yuk.” “Oke.” RX King milik Fikri melaju dengan kencang. Membelah jalanan Kota Baja yang penuh debu. Semilir angin pantai menerpa wajah tirusku, yang terduduk bagai di hamparan lautan es kim. Rambut ikal bergelombang menari mengikuti arah angin berhembus. Lenganku memeluk lutut. Pandanganku lurus ke garis horizontal. Fikri duduk di samping kiriku. Kedua kakinya diluruskan. Tangannya meremas butir-butir pasir yang ada di samping kanan dan kirinya. Selama beberapa saat kami terdiam. Hanya suara debur ombak yang terdengar. “Tari, sebenarnya apa yang ingin kamu katakan?” tanya Fikri, tiba-tiba. Ia seakan merasakan ada sesuatu yang kusembunyikan. Aku bangkit, kemudian berseru, “Fikri, aku ingin bermain dengan ombak.” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Fikri kemudian menggenggam dengan lembut tanganku. Aku menatapnya. Mataku dan matanya saling beradu. Ada kepedihan di hatiku. Aku melepaskan genggaman Fikri. Dengan gontai aku melangkah, mendekati riak ombak yang menjilati hamparan es krim itu. Fikri menyejajarkan langkahnya dengan langkahku. Aku hentikan langkahku, saat ombak yang menerjang kakiku semakin kuat. Fikri masih berada di sampingku. “Sayang, kamu kenapa? Pasti ada sesuatu hal yang ingin kamu katakan padaku.” “Fikri, kita adu lari, yuk. Sampai tembok pembatas itu ya,” untuk kedua kalinya aku mengalihkan pembicaraan. “Oke. Tapi kalau kamu kalah, kamu harus mengatakan yang sejujurnya. Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan.” Setelah aku merasa letih, aku kemudian berhenti dan berbalik. Ternyata aku sudah jauh meninggalkan Fikri, yang memang tidak ikut berlari. Masih dengan nafas tersengal-sengal, aku kembali berlari ke arah Fikri. Aku merasakan beban di hatiku kini sedikit berkurang. “Kamu curang,” seruku, masih dengan tersengal-sengal. “Kamu larinya semangat banget, sih. Jadi aku enggak bisa menyusul deh,” jawab Fikri, sekenanya. Aku kemudian terdiam. Pandanganku kembali tertuju ke garis horizontal. Namun kini, sebuah senyuman mengembang dari bibir tipisku. Perasaanku lebih tenang. “Sayang, sebenarnya ada apa sih?”. “Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu. Hanya bersamamu, hari ini,” jawabku. Pandanganku masih tertuju ke garis horizontal. Fikri kemudian tersenyum, sambil berkata, “Aku pikir kamu mau cerita sesuatu. Karena kamu selalu mengajak aku ke pantai, kalau mau cerita sesuatu.” “Masa, sih?” “Bukannya iya?” Kami pun bercanda dan tertawa. Menghabiskan hari ini bersama. Berdua, di tepi pantai. Kami bercanda dan tertawa, hingga senja berada di ufuk barat. *** Kala senja berada di ufuk Barat, tepat berada di tengah garis horizontal, aku mengatakan, “Fikri, aku sudah memutuskan bahwa aku enggak bisa melanjutkan hubungan kita. Aku enggak bisa pacaran sama kamu. Ada seseorang yang lebih pantas untukmu.” “Maksud kamu apa?!” Aku kemudian menarik nafas, dalam dan panjang. Menghembuskannya perlahan. Aku berusaha untuk tersenyum, meskipun hatiku terluka. Sama seperti yang Fikri rasakan saat ini. “Aku sudah terlalu sering menyakitimu. Aku tidak berhak mendapatkan cintamu. Kamu berhak mendapatkan wanita lain yang lebih baik dariku. Dia adalah Laras.” “Laras?! Saudara kembarmu? Lestari, cinta itu bukan bola, yang bisa kamu oper sesuka hatimu. Sekalipun, kepada saudara kembarmu!” Fikri marah besar. Hatiku semakin terluka. Aku menyadari, bahwa cinta memang bukanlah sebuah bola. Tapi demi kebahagiaan Laras, aku berharap, cintamu padaku seperti halnya sebuah bola. Sehingga cinta itu bisa dioper kepada Laras. Dan membuatnya bahagia.

Senin, 10 Oktober 2011

love with

Bercinta dengan cerdas Mendapatkan amanah membesarkan makhluk-makhluk cerdas dari Nya adalah tantangan yang luar biasa. Kedatangan mereka yang diantar oleh burung bangau ke dalam pelukan kami menjadikan kamipun merasa terpacu untuk cerdas. Mendapatkan putra-putra yang dalam kondisi normal, tanpa perlu permak sana-sini, sudah suatu kebahagiaan tak terkira. Apalagi ternyata mempunyai sesuatu yang bisa diolah lebih jauh lagi… tentunya semua menjadi tak ternilai lagi rasa di hati. Dinobatkan menjadi “bapak” oleh “nasib yang baik” menuntut kemampuan pengolahan diri yang lebih lagi. Saat anak-anak beranjak ke masa dimana mereka memulai mengenal dunia di luar rumah, maka itulah saat yang sangat tepat untuk mendampingi dengan benar. Kebenaran disini adalah kebenaran versi saya, berdasar pengalaman mengolah rasa dari berbagai peristiwa kehidupan sejak masa kecil tentunya. Kebenaran yang tidak perlu harus mencari dari buku teks bagaimana menjadi orang tua yang baik, tidak pula dari seminar-seminar mahal yang menjual kata-kata sederhana yang sebenarnya sudah pula saya lakukan selama ini. Saat si sulung berusia awal dan meminta waktu untuk bermain mobilan, maka saya (harus) menyediakan waktu untuk ikut “menikmati” permainan itu. Asal ikut bermain dan tertawa saja..? Ooo… tidak la yaw… Saat bermain mobilan, masukkan unsur pendidikan dan pengenalan teknologi, sesederhana apapun bentuknya. Mobilan tidak hanya dilempar atau didorong keras kesana kemari, tetapi dibuatkan trek yang rapi dari alat yang sederhana. Cukup sampai disitu..? Untuk beberapa waktu kemudian, tingkatkan lagi dengan membuat “pertandingan” antarmobilan yang ada. Beri nama untuk tiap mobil, adu kecepatannya, catatkan di kertas, dan biarkan si sulung mencatat dan menghitung angkanya. Maka, sambil asyik bermain, dia juga belajar menulis angka, menulis huruf, dan juga sekaligus berhitung (menghitung nilai peringkat dari tiap mobil yang ikut lomba tersebut). Sampai disana saja..? Ah… saya kembangkan lagi. Saat ia sudah mampu mengenal komputer, maka permainan “lomba mobil” tadi tetap dilanjutkan. Pendekatannya kemudian adalah semua bentuk perhitungan yang tadinya ia lakukan di secarik kertas maka dipindahkan ke perangkat lunak lembar-kerja di komputer. Permainan tetap dilangsungkan, dengan berbagai variasi trek balap, dan… saatnya si sulung mengoperasikan perangkat lunak pengolah angka. Semua nama mobil dan angka nilai dimasukkan dalam perangkat lunak itu. Tentunya juga pengenalan pembuatan formula sehingga perihitungan kelasemen akan bisa otomatis. Bagaimana jika adik si sulung bukan cowok, tapi cewek yang cantik (tentunya)..? Mmmm… sama saja. Saat ia mengajak bermain masak-masakan, waktu akan selalu (harus) tersedia. Ikuti keasikannya dengan sepenuh hati. Ikut memesan “masakan” yang ia masak, dan… memasukkan unsur kehati-hatian dalam bekerja. Air atau minyak panas adalah perhatian yang perlu dia ingat. Jadi, saat bermain, kadang-kadang seolah terkena air panas, dan berpura meniup-niup tangan dengan mimik muka yang kesakitan, tetapi semua harus dengan konteks yang menyenangkan tentunya… Pengembangan selanjutnya adalah dengan memulai ngajari si cewek ini bagaimana menjual hasil masakannya itu. Pisang goreng, atau teh manis panas, yang imajiner tentunya, dihargai per-item-nya, kemudian ia harus menghitung berapa bisa dijual dan berapa bisa mendapat keuntungan. Ah… ada berhitung disana..! Tapi… tentunya tidak menakutkan… bahkan menyenangkan… Saat si sulung dan adiknya mempunyai waktu luang bersama, saatnya mengolah mereka dengan permainan yang lain lagi, tetapi… dapat dinikmati sekaligus bersama. Permainan yang bisa mengakomodir “perbedaan” mereka. Permainan ini adalah bermain dengan kata dan logika, yang sangat sederhana dan tanpa biaya tambahan apapun. Nama “permainan” ini mind mapping, katanya. Si sulung dan adiknya, dan juga saya harus terlibat, bermain dengan rangkaian kata yang saling bersambung. Contohnya adalah: saat si sulung menyebut “ayam”, maka si adik harus meneruskan dengan kata yang terkait dengan “ayam”, seperti “sate”, misalnya. Saya dalam giliran berikutnya, dan bisa dengan menyebut kata “padang”. Pada giliran berikutnya si sulung bisa meneruskan dengan kata “gempa”, dan seterusnya. Hanya diucapkan saja..? Mmmm nggak juga… Semua harus digambarkan sesuai dengan kata yang diucapkan. Digambarkan dalam papan tulis dan dituliskan katanya di dekat obyek yang digambar. Untuk menghindari kebosanan dalam perulangan permainan mind mapping ini, dilakukan variasi dengan berbagai cara. Misalnya dengan mengundi giliran menggunakan permen warna-warni. Si sulung pegang warna merah, si adik memilih warna kuning, dan saya memilih warna hijau, serta ibunya memilih warna coklat misalnya. Saat warna permen yang dipilih (secara random) muncul, maka ialah yang harus meneruskan permainan… Permainan ini dapat dikembangkan lagi dengan membuat pohon dan cabang serta ranting yang semua terkait dengan “kata benda” sebelumnya. Keuntungannya apa sih..? Ah… gak perlu banyak teorilah… yang penting anak-anak senang, mampu berpikir kreatif, dan… memperbanyak waktu saya bersama mereka. “Waktu bersama anak-anak” adalah hal yang termahal dan termewah yang mampu saya berikan. Dan diperlukan pula “kecerdasan” dalam “bercinta” dengan mereka. Saya yakin kebersamaan dengan kuantitas disertai kualitas yang tinggi ini akan berbuah manis pada mereka kelak. Saya tidak pernah berharap anak saya menjadi “abnormal” apalagi “paranormal”… hehehe… Biarlah mereka menjadi diri mereka sendiri… dengan kemampuannya sendiri… yang berkualitas… : ) Tetapi jika kemudian mereka menjadi fasih dalam berhitung (atau berlogika) karena pengalaman masa kecilnya, maka itu hanyalah bonus saja, dan patut disyukuri bersama. Pesan yang selalu saya berikan pada mereka, sambil ngobrol santai tentunya: “Kamu bukanlah yang terbaik nak, tapi camkan bahwa kamu harus menjadi yang terbaik. Tentunya terbaik bagi semua, bukan untuk diri mu sendiri saja…”. Semoga iapun bisa mendapatkan hal serupa di lingkungan “bermain” keduanya… lingkungan pendidikan formal di sekolah…

klik

cerita fiksi romantis mempengaruhi seks dan emosi Gaya Hidup – Cerita fiksi romantis sangat disukai oleh pembaca terutama wanita. Alur jalan cerita fiksi romantis yang berakhir dengan kebahagian inilah yang mempengaruhi seks dan emosi. Menurut penelitian Jurnal Media di Inggris, novel adalah ancaman yang tidak diketahui bagi seksual maupun emosional wanita. Memang sejak dulu, abad ke 18 kisah romantis sangat diminati sampai saat ini oleh wanita. Bahkan setelah membaca novel romantis tersebut wanita sering mengharapkan bertemu seorang pria yang seperti di dalam novel. Sampai-sampai novel sepertinya menghipnotis wanita remaja maupun dewasa untuk masuk ke dalamnya dan terbuai oleh cerita di dalam novel itu. Jurnal Keluarga Berencana dan Perawatan Kesehatan Reproduksi melakukan survei dan hasilnya bahwa novel atau cerita fiksi romantis dan berbau seks ini sering mengumbar hubungan seks yang tidak diinginkan wanita. Novel ini terkadang menceritakan hubungan seks yang tidak sehat, contohnya tidak menggunakan pengaman. Akhirnya banyak pembaca menirunya, karena mereka tidak ingin melakukan yang tidak sesuai dengan kisah novel itu. Cerita fiksi romantis tidak hanya menyajikan kisah romantis yang akhirnya kebahagian saja tetapi juga menyajikan kekerasan seksual. Sering sekali, fiksi romantis mengakibatkan hubungan mengalami masalah. Hal ini disebabkan karena cerita romantis ini juga menyajikan ketidakpuasan seksual. Menurut Quilliam, “novel romantis banyak disukai wanita. Bahkan wanita membaca 30 judul romantis dalam sebulan”

Minggu, 04 September 2011

the arabic rambo

umar

friends...